I also do that pray…
Kemaren, mata gue tiba-tiba terpaku sama tulisan di cover sebuah novel…
“Sebagian orang berharap dapat menikah dengan laki-laki yang mereka cintai. Doaku sedikit berbeda: aku dengan rendah hati memohon kepada Tuhan agar aku mencintai laki-laki yang menikahiku…”
ngebaca tulisan itu, ingatan gue langsung balik ke 1 tahun yang lalu.
I also do that pray.
Banyak temen gue yang sempet nanya (terutama temen2 yang udah jarang ketemu), gimana sih kronologisnya sampe akhirnya gue memutuskan untuk menikah di umur gue yang masih 20 tahun kurang 1 hari waktu itu. Tapi dengan segala keterbatasan gue, pertanyaan-pertanyaan itu masih gantung sampe sekarang. Well, mungkin inilah saatnya gue untuk bercerita (walaupun ga bisa lengkap-lengkap amat ya ;p)…
Kalo orang-orang memulai langkah awal untuk menikah dengan yang disebut “pacaran”, gue ngga. Waktu gue dan suami gue memutuskan untuk menikah, kita sama-sama belum punya “perasaan” apapun. Kita bener-bener mulai dari nol. Yaa, walaupun gue dan suami gue udah kenal cukup lama, tapi kita tidak dalam keadaan kenal yang “sebenarnya”. Paling-paling setahun cuma ketemu 2-3 kali. Itupun cuma say “hi”.
Singkat kata, waktu yang tersisa hanya 3 bulan untuk sampe ke hari pernikahan kita. Dan hari-hari pertama setelah kita memutuskan menikah, gue sering mengucapkan kalimat-kalimat di atas, di sela-sela doa gue. Walaupun sistematika kata-katanya ga segitu persisnya sih…
Dan sekarang, pernikahan gue udah berumur 8 bulan. So, gimana dengan jawaban atas doa-doa gue sebelum nikah itu?
Alhamdulillah,
gue dapet semuanya…
“Sebagian orang berharap dapat menikah dengan laki-laki yang mereka cintai. Sebagian lagi, dengan rendah hati memohon kepada Tuhan agar mereka mencintai laki-laki yang menikahi mereka… Tuhan mengabulkan keduanya. Aku menikah dengan laki-laki yang kucintai, dan aku mencintai laki-laki yang menikahiku…”
…
mengenang satu tahun kemarin…
pertemuan di malam tahun baru…
…